Ruangkerjacreative.com – All I have to do is ride The Snake Imajinasi membuat manusia tetap hidup dan berpikir tajam. Gagasan akan kehidupan lebih baik di bumi pun terlahir dari sebuah imajinasi. Tak heran bahwa imajinasi adalah substansi penting untuk kehidupan. Terbayangkah jika kita hidup tanpa imajinasi? Mungkin di saat itu, kita pun juga ikut mati.

Perkenalkan, kami adalah The Melting Minds : kelompok eksperimen imajinasi yang merilis lagu pertama berjudul The Snake yang dirilis oleh Boneless Records. Lagu ini adalah eksperimen imajinasi dari Pandora’s box : any source of great and unexpected troubles; a present which seems valuable but which in reality is a curse.

Lagu ini menceritakan manusia yang tergoda sesosok makhluk yaitu The Snake yang diturunkan dari sisi gelap semesta. The Snake yang dimaksud di sini adalah false promise untuk manusia terutama mereka yang gagal dalam berpikir. Mereka yang gagal dalam berpikir akan dirasuki oleh sosok tersebut kemudian menggodanya untuk masuk ke jurang tergelap dalam pikiran. Pikiran yang perlahan semakin gelap, meruntuhkan semua doktrinasi pola-pola pikir yang sudah ada; melihat semuanya dari sisi yang lebih dalam, sisi gelap yang tidak pernah tersinari; terjerumus di dalamnya hingga ketidaksadaran adalah sebuah kesadaran itu sendiri. Pada akhirnya ketika mereka sampai di jurang kegelapan yang tidak ada akhir itu, tidak ada yang bisa dilakukan selain menikmati perjalanan itu sendiri. All I have to do is ride the snake, expose yourself into your deepest fear and the darkness of life.

Konsep musikal The Snake menggunakan metode repetitif a la musik psychedelic dengan sound synthesizer yang menggambarkan ular yang terus melata tanpa henti. Suasana mystical dan quirky yang dibangun dalam lagu ini juga dibuat untuk memperkuat semiotika The Snake sebagai makhluk yang dikultuskan. 

The Snake merupakan satu penggalan cerita sekuel kedua dari tiga sekuel yang terbagi dalam album yang nantinya akan dirilis pada pertengahan tahun 2021.

The Melting Minds merupakan kelompok eksperimen imajinasi yang dibuat oleh Slinky Bones atas inisiasi Dhandy satria lewat hubungan jarak jauh Yogyakarta – Jakarta. Saat itu, Slinky Bones ingin membuat satu album untuk menyalurkan alter-egonya. Sekembalinya Slinky Bones ke Yogyakarta dari vakansinya di Jakarta, ia mengajak beberapa teman yang memiliki keresahan yang sama untuk olah pikiran guna menggarap ide album serta mendirikan label musik independennya sendiri bernama Boneless Records.

Terbentuklah satu band yakni The Melting Minds yang tercipta dari ketidakaturan yang teratur pada tahun 2020 yang terdiri dari vokalis/gitaris Slinky Bones, gitaris Ahmad Tubagus, multi-instrumentalis Dhandy Satria, bassis Restu Prabawa, synth/singer Yafet Yerubyan, dan duet drummer Christian Gratia dan Wawa Kzk.