Kota Banyumas memiliki beragam budaya dan aset kesenian yang dikagumi dan sudah dikenal di Internasional, salah satunya adalah Tari Lengger atau disebut juga Ronggeng adalah kesenian asli kota Banyumas berupa tari tradisional yang dimainkan oleh 2 sampai 4 orang pria serupa wanita yang didandani dengan pakaian khas. Kesenian lengger Banyumasan ini diiringi oleh musik calung, gamelan yang terbuat dari bambu. Nama tarian ini pernah disebut dalam novel trilogi Ronggeng dukuh Paruk karya sastrawan Ahamad Tohari.

Sampai – sampai Tari Lengger ini di angkat kesebuah film yang berjudul “Tari Lengger Maut” karya Yongki Ongestu selaku sutradara yang bertujuan utama membuat film “Tarian Lengger Maut” adalah untuk memperkenalkan budaya Tari Lengger khas Banyumas ini.

Lengger, berasal dari kata eling ngger.  Ada juga yang menyebut “lengger” berarti “le” dari “thole”(lelaki) dan “ngger” (perempuan) sapaan untuk anak perempuan. Di Banyumas kata “lengger” sering menjadi istilah umum sehingga orang sering berkata :”Lengger lanang” (Lengger lelaki) dan “Lenggger wadhon” (Lengger perempuan). Istilah itu akhirnya menjadi salah kaprah.

Tarian Lengger ini memberikan nasihat dan pesan kepada setiap orang untuk dapat bersikap mengajak dan membela kebenaran dan menyingkirkan kejelekan. Tarian ini dirintis di Dusun Giyanti oleh tokoh kesenian dari desa Kecis, Kecamatan Selomerto, kabupaten Wonosobo. yaitu Bapa Gondowinangun antara tahun 1910. Selanjutnya antara tahun 1960-an, tarian ini dikembangkan oleh Ki Hadi Soewarno.