Ruangkerjacreative.com – Menyusul terbitnya single ‘Tafsir Mistik’ pada Jumat (5/3) Maret 2021 kemarin, band selancar rock kontemporer The Panturas meluncurkan sebuah karya video musik guna mendukung kuatnya unsur penceritaan dalam penulisan lirik lagunya. Kisah legenda teror seekor kujang atawa leak aka vampir betina yang menyerang suatu pemukiman Priangan di masa paska perang kemerdekaan Indonesia. Direksi imajinasi dan visual diarahkan oleh sutradara Yustinus Kristianto bersama Gerombolan Struzzo, dengan peran istimewa dari aktor layar lebar/teater kawakan Sha Ine Febriyanti dan musisi Sir Sandy Harrington sebagai antagonis-protagonis yang saling terjebak dan menjebak.

Adegan pun tersaji klasik. Bak film laga kuno, kita disuguhi aksi sinema yang memikat ketika seteru sang vampir dengan segenap warga akhirnya bertemu di tengah sebuah pesta yang telah direncanakan. Taring mencabik kulit, bercak darah menciprat di mana-mana, dan The Panturas mengiringi terciptanya teater pembantaian tersebut lewat alunan Melayu rock & roll gipsi yang meletup-letup. Di sanalah Nyai Kuyang berdansa kekenyangan.

“Cerita kuyang ini merupakan representasi sebuah gagasan atau ideologi yang enggak pernah mati, dan bahkan secara struktural enggak bisa dibendung. Singkat kata, ada dua makhluk berbeda dunia yang sama-sama punya niat utama melindungi diri masing-masing. Namun, perbedaan kebutuhan membuat mereka akhirnya malah saling mengancam dan memangsa satu sama lain,” ujar Yustinus Krtistianto.

Ini adalah kali kedua baginya bekerja dengan The Panturas membuat video musik. Yang pertama untuk lagu ‘Queen of the South’ di mana ceritanya mengambil pokok juga dari legenda mitos lokal lainnya, yaitu Ratu Pantai Selatan. Bedanya terletak pada penanganan sinematik. Jika di video sebelumnya tema yang diangkat berkesan urban, kali ini ia coba mengekplorasi film-film Asia dari era 60-an sebagai preferensi. Berpalet warna hitam-putih, inspirasinya mengalir melalui beberapa karya milik Usmar Ismail, seperti Tiga Dara, Lewat Djam Malam atau Darah dan Doa, serta sineas asal Jepang, Akira Kurosawa. Dikawinkan kemudian dengan gaya slasher khas Quentin Tarantino di film Kill Bill.

Selain Sha Ine Febriyanti dan Sir Dandy Harrington, video musik ‘Tafsir Mistik’ pula menghadirkan sejumlah ekstra kameo yang merupakan musisi-musisi panutan The Panturas: Jon Kastella (Syarikat Idola Remaja), Eky Darmawan (Rock N’ Roll Mafia) dan Lucky Widiantara (Lucas and AB).

“Kami menganggap video musik adalah bagian dari catatan sejarah. Dan penting buat kami untuk bisa dinikmati secara visual, tidak hanya audio musikal,” kata bassis Bagus ‘Gogon’ Patria. 

Mengenai intepretasi lirik, Yustinus Kristianto mengaku musik The Panturas berhasil membawanya mengarungi rimba khayal yang otomatis mampu menghadirkan fragmen-fragmen ajaib. “Misalnya,” ucapnya, “sedang menaiki mobil van Scooby Doo sambil mendengarkan album Magical Mystery Tour-nya The Beatles. Unik, penuh energi, dan yang pasti penuh dengan misteri yang bakal membuat kita semua terkejut nantinya.”  

Persona kuyang menjadi pemaknaan pribadi sang sutradara terhadap lirik brilian single ‘Tafsir Mistik’ yang ditulis vokalis/gitaris Abyan Zaki Nabilio. Frasa cantik, puitis dan orisinal yang ditangkap sebagai kritik kepada para pemikir musiman yang bertebaran di jagat sosial media. Kata ‘mistik’ di sana dapat mewakili, entah itu hantu gaib maupun hantu ideologis. Single ini semakin menancapkan karakter otentik The Panturas sebagai unit surf rock jempolan yang berhasil menggabungkan elemen indie rock dengan pelbagai hibrida, dari punk hingga langgam tradisional lintas Nusantara, khususnya untuk album penuh kedua mereka nanti.