Ruangkerjacreative.com – Tanggal 5 Maret 2021 lalu, KRANS telah resmi merilis lagu ketiganya yang berjudul ‘Obituari, Kerangka Masa’ di seluruh gerai musik digital. Satu hari setelah perilisannya, KRANS juga sempat mengadakan panggung pertunjukannya sendiri yang bertajuk ‘Pengganggu Tidur Siang’. Tak hanya sampai situ saja, KRANS masih ingin memperkenalkan ‘Obituari, Kerangka Masa’ dengan cara yang berbeda.

Berawal dari sebuah proyek mangkrak berbentuk bangunan yang terletak di ujung utara Kota Yogyakarta, hal itu  direspon oleh Sagasatria (bassist). Saga melihat perasaan yang muram pada paras bangunan usang tersebut. Merasa cocok dengan suasana di lagu ‘Obituari, Kerangka Masa’, Saga kemudian mengubah idenya menjadi sebuah live session.

“Idenya dimulai dari ada gedung tua letaknya di daerah utara Jogja. Gedung ini usang tapi punya sentuhan industrial yang sangat cocok dengan rasa dari Obituari, kerangka masa itu sendiri. Sebelumnya tidak ada kepikiran untuk bikin versi lainya dari ‘Obituari, Kerangka Masa’ sampai ketemu lokasi itu. Lokasinya kelihatan suram dan sepertinya pas dengan mood lagunya,” ucap Saga.

Saat mengeksekusi ide tersebut, banyak momen-momen di luar rencana yang terjadi begitu saja. Saga juga tak menampik adanya interaksi dua dunia yang tak kasat mata itu terjadi. Apa lagi suasana dan lingkungan sekeliling Gedung usang tersebut juga mendukung KRANS untuk membuat ‘Obituari, Kerangka Masa’ ini menjadi lebih muram.

“Ini mungkin project yang cukup menguras “energi”. Kami bermain di sebuah tempat yang tidak berpenghuni lebih dari satu dekade. Suasananya benar benar gelap, ide merespon ini juga gila. Kami baru mulai on cam pukul 19.00 WIB dan selesai pukul 22.00 WIB dan semua rekaman ini dilakukan secara live. Bahkan kalau diamati, kami mendengar beberapa suara-suara lain yang janggal di rekaman ini,” jelas Saga.

Berbeda dengan beberapa agenda produksi KRANS belakangan, kali ini Saga mencoba melepasliarkan idenya. Menjadi sutradara dalam project ini, Saga ingin membuat ‘Obituari, Kerangka Masa’ menjadi terkesan lebih muram dalam versi ini. Saga juga tidak memainkan alat musiknya dalam versi ini, sedangkan Shofa Aditama menyanyi dengan diiringi seorang pianis bernama Rafi Raditya Daeng Parani lulusan ‘Di atas Rata-Rata’ (diproduseri Gita Gutawa dan Erwin Gutawa), serta pemain cello lulusan Institut Seni Indonesia, Yosua Jeconiah Adnan Sajuto.

Tak mengeksekusi sendiri, KRANS juga mengajak perusahaan busana yang trendi asal Yogyakarta, Starcross. Saga mengatakan bahwa kultur busana dan musik juga bisa  berjalan beriringan dan saling mendukung. Tentunya, kerjasama ini sangat dinantikan dan diyakini akan bertahan lama.

“Tidak lepas dari itu semua, dalam project kali ini KRANS mengajak salah satu brand clothing di Yogyakarta, “Starcross”, untuk mendukung pelestarian karya yang kami buat. Kami merasa juga di lain sisi musik dan fashion adalah satu kondisi yang harus saling mendukung. Dan kami coba untuk hadirkan lagi di generasi kami sekarang,” ucap Saga.