Ruangkerjacreative.com – KRANS adalah band drama-pop asal Yogyakarta yang sudah dibentuk pada akhir 2017. KRANS terdiri dari Shofa pada vokal, Saga pada bass dan beberapa kawan untuk membantu KRANS saat diatas panggung. Dalam Diam merupakan single pertama yang dirilis pada September 2019, pada Februari 2020 KRANS merilis single keduanya berjudul Ruang Tengah. Mencoba tak jengah, pada 2021 KRANS mengabarkan ‘Obituari, Kerangka Masa’.

Sebuah lintas disiplin ilmu menjelaskan tentang alam semesta beserta isinya. Bagaimana mengenal cara kerja alam semesta, tentang bagaimana waktu berjalan. Semua berjalan berotasi, hampir tidak ada aspek di alam semesta yang bergerak secara linier.

Seperti halnya waktu yang berputar, matahari terbit, tenggelam, dan kemudian terbit lagi. Hal itu memperlihatkan bagaimana cara waktu bekerja. Berputar dari suatu titik, kemudian berjalan dan bertemu pada titik awal.

Lalu bagaimana waktu bekerja dalam diri manusia? Sebagaimana kita ketahui, manusia ada sejak dalam kandungan, kemudian lahir dan berada dalam masa fana yang tak menentu. Pada akhirnya, manusia akan bertemu dengan gerbang waktu untuk menuju keabadian, kematian.

Secara tersirat, KRANS bercerita tentang kehidupan manusia yang akhirnya hanya bersifat duka dan kehilangan. Penyesalan yang ada dalam fana nantinya akan menjadi keputusasaan. Kosong.

Menurut KRANS, tahun 2020 adalah momen yang tak pernah mereka rasakan, banyak kejadian tak terduga yang membuat seseorang harus kehilangan. KRANS berusaha mencoba merespon hal tersebut menjadi sebuah kabar duka yang membawa pesan khusus. Tak berusaha membuat orang kalang kabut, KRANS ingin mengingatkan kepada pendengarnya untuk bijaksana dalam menikmati momen. 

“Jadi, ‘Obituari, Kerangka Masa’ itu adalah respon kami terhadap tahun 2020 yang kami rasa ini adalah fenomena yang belum kami alami. Jadi kami mengambil nama ‘Obituari’ yang berarti berita kematian sedangkan ‘Kerangka Masa’ adalah mencoba meng-capture fenomena tahun 2020 kemarin. Ini adalah lagu yang lama, musik yang lama, namun punya momen yang sangat tepat untuk dirilis di tahun 2020 ini,” jelas Saga.

“Akhirnya sama, jadi momen-momen yang tajam sering sekali melihat sosmed yang berkaitan tentang kematian,” tambah Saga.

Tak hanya melihat tahun 2020, menurut Shofa, pesan yang ada di dalam karya ini menyangkut cakupan yang lebih luas. Ia menuturkan, kehilangan sosok yang tak terlupakan bisa menjadi goresan perih. Ada kalanya, ketika momen itu datang hanya penyesalan yang menjadi muara yang tak menyelamatkan momen.

“Memang, momen ‘Obituari, Kerangka Masa’ ini melihat tahun 2020 ini yang sangat berat untuk teman-teman di sana yang merasa kehilangan kerabat dekat kekasih atau sebagainya. Lagu ini bukan hanya melihat 2020 saja, tapi secara umum lagu ini bisa melihat kehilangan itu yang kemudian mempresentasikan bahwa kehilangan itu merupakan hal yang sangat menyakitkan atau sesuatu yang sangat berharga itu sangat itu membuat kita merasa terpukul, jadi di dalam  lagu ini kita menjelaskan bahwa sampai nanti tidak berjumpa lagi, pasti akan ada nilai-nilai di sana yang kita ambil,” ungkap Shofa.

“Intinya adalah momen-momen kehilangan ini membuat kami untuk berkaca lagi agar bisa untuk memanfaatkan semua waktu bersama kerabat maupun keluarga menjadi lebih berharga,” tambah Saga.

Lebih lanjut, Saga menjelaskan untuk proses kreatif dalam lagu ini, dimana masih ada beberapa cara lama yang digunakan. Shofa merespon lirik yang dibuat oleh Saga kemudian menambahkan beberapa elemen-elemen teknis. Dua yang membantu mereka, Anshar Aziz Machmuda yang mengarahkan agenda produksi lagu dan Fakhriyan Ardiyanto yang menanggung posisi sebagai drummer.

“Di ‘Obituari, Kerangka Masa’ ini masih sama proses kreatifnya dengan KRANS yang seperti biasanya. Shofa yang merespon lirik kemudian memberikan sentuhan-sentuhan lagunya, ide ide notasi pada vokalnya. Kemudian masih sama juga kita masih dibantu Ancal sama Iyan untuk proses di bagian drum dan men-direct pada lagunya,” tutur Saga.

Proses kreatif tak hanya ada dalam lagu, KRANS juga berfokus dalam pembuatan visual artwork. Bekerjasama dengan Antino Restu Aji, merespon ‘Obituari, Kerangka Masa’ menjadi karya yang juga dapat dinikmati oleh indera penglihatan. Sedangkan untuk merchandise yang akan dirilis, desain visual di kerjakan oleh Aswar Syarifuddin.

“Tahun kemarin kami masih ada gigs yang dijalankan tapi tidak besar. Sedangkan untuk treatmen di lagu ini masih sama di area pop alternatif/drama pop. Kemudian kita juga berkolaborasi dengan teman-teman seni rupa ada Tino dari Marsmolys kemudian ada Wawak membantu untuk mengerjakan merchandise-nya,” pungkas Saga.