Ruangkerjacreative.com – “Kehadiran manusia sebagai entitas tertinggi menurut banyak paham dan ajaran kini menjadi sebuah pertanyaan besar. Berkah berupa akal dan logika berubah jadi pisau bermata dua, meski sama-sama difungsikan sebagai alat untuk bertahan hidup, beberapa manusia memiliki metode yang berbeda-beda dalam melangsungkan kehidupan.”

Hari ini tragedi terjadi seolah kebetulan, bencana terjadi seolah tidak terduga, dan panen hasil alam terjadi seolah keberuntungan. Manusia gagal dalam membaca hukum alam, dimana kita seharusnya mengambil dari apa yang kita beri, merawat dari apa yang disediakan alam, dan menjaga keseimbangan rantai kehidupan. Ketamakan telah membutakan logika, perasaan dan nurani. Manusia telah banyak mengacau dan cenderung memiliki keinginan untuk meraih kelebihan dibanding yang lain. Siapa saja ingin menjadi lebih kaya, lebih pintar, lebih berpengaruh, lebih berkuasa, lebih terkenal, dan seterusnya.

Imajinarium mencoba menceritakan gambaran metafora dari fenomena ini kedalam lagu berjudul Sacrifice. Melukiskan manusia yang banyak melakukan kesalahan terus menerus dan menimbulkan dampak buruk bagi keseimbangan di bumi. Pada akhirnya mereka tersadar bahwa semua yang dilakukan telah berdampak buruk terhadap Bumi. Ibu Bumi perlahan-lahan sekarat, menjadi korban utama dari keserakahan manusia dari banyaknya eksploitasi alam dan kerusakan lingkungan hidup.

Harusnya, manusia bisa memulai untuk menahan nafsu dan sadar akan pentingnya kehidupan. Melawan kehendak alam diibaratkan seperti berlari melawan laju gravitasi, sejauh apapun kita terbang tetap akan jatuh diujung waktu. Bumi memiliki siklus dalam beradaptasi melawan kerusakan. Bencana dan wabah bukanlah kejadian kebetulan, melainkan tidak lebih karena ulah dari manusia itu sendiri yang selalu digadang-gadang sebagai entitas ter-mulia dan ter-tinggi.

Poin dari lagu ini adalah ajakan untuk kita manusia menimbulkan kesadaran yang lebih terhadap bumi dan lingkungan hidup. Bahwa kita telah mengacau selama ini, saatnya kita memperbaiki ini semua dari membangun sikap lalu melakukan perubahan pada aksi nyata, tak melulu tentang hal yang besar, lakukan perubahan kecil secara utuh, teratur, dan kembangkan terus menerus. Contoh: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak melakukan pemborosan terhadap sumber daya dan banyak lagi hal yang mampu kita lakukan yang mampu berdampak baik pada keseimbangan bumi dan lingkungan hidup.

Aspek musikal dalam karya ini mengkombinasikan banyak formula, pengaruh dari berbagai referensi seperti Pink Floyd, Led Zeppelin sebagai landasan Imajinarium membuat riff, lick, dan ritmik musik Rock pada lagu ini. Synthesizer yang tidak terlalu dominan. Orkestrasi strings section dan brass section yang seringkal dilakukan composer film score seperti Hans Zimmer, John Williams, dan lain-lain untuk memperkuat suasana yang ingin ditunjukkan, karena sering menerapkannya juga dalam karya-karya mereka, Radiohead juga menjadi referensi Imajinarium pada saat meng-compose musik dalam lagu ini.